Euforia Minim Makna

Mau-tahu-sejarah-kalender-Ini-dia-ulasannyaDalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Euforia berarti perasaan nyaman atau perasaan gembira yang berlebihan. Di penghujung tahun seperti saat ini, kita akan menyaksikan euforia yang melanda masyarakat kita dalam menyambut tahun baru 2016.

Euforia menyambut tahun baru dilakukan dengan berbagai cara. Mulai dari sekedar bermain kembang api di halaman rumah sampai mengadakan pesta hingga larut malam atau bahkan sampai pagi. Euforia ini bisa dipastikan terjadi di seluruh dunia. Dalam cakupan yang lebih kecil, juga terjadi di Indonesia dan di lingkungan tempat tinggal kita.

Sistem perhitungan hari dunia yang hari ini menggunakan perhitungan hari berdasarkan penanggalan Kalender Masehi yang awalnya diilhami dari penomoran tahun pada Kalender Julius dan Kalender Gregorian, sudah menjadi penanggalan yang bersifat default bagi penduduk dunia. Termasuk bagi masyarakat Indonesia yang umumnya beragama Islam. Muslim Indonesia hari ini banyak yang terjebak dalam perayaan tahun baru yang sebenarnya tidak pernah diajarkan oleh panutan mereka, Rasullah SAW yang setiap hari disebut-sebut sebagai panutan, junjungan, dan pemimpin. Setidaknya itu yang diucapkan dalam pembukaan setiap kali memberikan sambutan atau pengarahan.

Menyambut tahun baru hemat saya, bukan sesuatu yang dilarang asalkan tidak melanggar hal-hal yang bersifat normatif. Dalam kajian keislaman, ada sebuah riwayat yang menyatakan “Barang siapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat”. Walaupun sebagian besar penceramah tidak pernah menjelaskan derajat dari hadits tersebut.

Namun, berdasarkan riwayat yang sangat jarang dijelaskan derajatnya tersebut, tampaknya pesan yang disampaikan memang harus menjadi renungan kita. Setiap menyambut hari esok (dalam hal ini ditandai dengan tahun baru), kita dituntut untuk mendapatkan suatu pencapaian yang lebih baik dari kemarin, terlepas dari perkara urusan dunia atau akhirat.

Kembali ke euforia yang berlebihan, dapat kita lihat, sambutan yang terjadi secara umum akan datangnya tahun baru lebih bersifat temporer dan terkesan hanya mengikuti trend yang ada. Coba bayangkan, betapa berlebihannya sekelompok masyarakat menyiapkan pergantian tahun mulai dari membeli kembang api dan petasan yang disebut berbahaya bagi keselamatan, membeli terompet yang sebenarnya sangat diragukan uji klinisnya sampai menyiksa tubuh dengan cara mengurangi hak tubuh untuk segera beristirahat.

Masih banyak dari kita yang hanya terhipnotis dengan perayaan sesaat tanpa memaknai esensi dari pergantian hari yang terjadi. Semua hanya mengenal hura-hura meskipun di beberapa daerah, pihak keamanan telah mengeluarkan himbauan untuk tidak terlalu berhura-hura. Bahkan di salah satu daerah, pesta pora ini diselenggarakan oleh pemerintah daerah dengan mengatasnamakan hiburan untuk rakyat.

Selepas pesta ria dan hura-hura, kita kembali ke rutinitas dan kebiasaan lama kita. Kebiasaan dalam menyikapi hari esok tanpa perubahan dan pencapaian berarti dalam mendapatkan yang lebih baik dari hari kemarin. Semua berjalan seperti semula. Harapan yang terbayang sudah tertutup dengan lelahnya tubuh akibat euforia yang berlebihan. Belum lagi dengan ancaman keselamatan yang menghantui anak-anak kita atau bahkan kita sendiri ketika pergi keluar rumah dari malam hingga pagi hanya untuk menunggu pergantian hari yang sebenarnya sudah setiap hari kita alami.

Pada akhirnya, hanya diri kita sendiri yang dapat mengukur apakah euforia yang telah dilakukan dapat memberi arti atau tidak untuk kehidupan kita esok hari. Jangan sampai pergantian hari hanya disikapi dengan berlebihan dan merugikan kita sendiri. Sehingga euforia kita akan pergantian tahun hanya menjadi sesuatu yang minim arti atau tanpa makna sama sekali.

Semoga hari esok menjadi hari yang lebih baik untuk kita.

 

 

 

2 pemikiran pada “Euforia Minim Makna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s