Kekalahan Indonesia dan Introspeksi PSSI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

I’m not happy with this 10-0 scoreline, I went to Indonesia last summer….. (Rio Ferdinand, Manchester United)

Pada ajang AFF Cup 2010, Indonesia memang tidak menjadi juara. Namun, tim nasional Indonesia yang ketika itu dilatih oleh Alferd Riedl menunjukkan mereka mempunyai kelas yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Mereka berhasil menang melawan Thailand dan bermain penuh semangat. Inilah kali pertama sejak Piala Asia 2007, euforia masyarakat terhadap tim nasional sepak bola meledak luar biasa bahkan memancing komentar dari pemain sekelas Rio Ferdinand di akun twitternya yang cukup sering memuji penampilan Indonesia.

Seiring dengan terjadinya pergantian pengurus PSSI, maka berubah pula seluruh kebijakan mengenai tim nasional Indonesia. Langkah pertama adalah dengan memberhentikan Alferd Riedl secara mendadak karena kontraknya dianggap ilegal. Keputusan ini jelas memancing komentar miring untuk PSSI karena Riedl dianggap telah membentuk tim nasional dengan baik menuju tim nasional sepak bola yang diinginkan setiap orang di Indonesia. PSSI lalu menunjuk Wim Rijbergen sebagai pelatih karena dianggap lebih baik dan telah terbukti meloloskan Trinidad and Tobago ke Piala Dunia sepak bola 2006. Meski akhirnya Wim tidak bisa mengangkat performa tim nasional (5 kali main, 5 kali kalah) di kualifikasi Piala Dunia 2014. Wim pun akhirnya dipecat.

Gairah masyarakat terhadap tim nasional sepak bola Indonesia kembali memuncak ketika tim nasional U-23 bertarung di Sea Games 2011. Tim yang dilatih Rahmad Darmawan memang hanya mendapat medali perak tapi masyarakat kembali bersemangat karena impian untuk memiliki tim yang tangguh kembali hadir dengan peluang yang sangat besar. Namun apa daya, harapan tinggal harapan karena Rahmad Darmawan tiba-tiba mundur dari kursi pelatih karena kebijakan PSSI yang membatasi pelatih memilih pemain. PSSI melarang pemain yang membela tim ISL bermain untuk tim nasional padahal 80 persen materi tim Rahmad Darmawan bermain di kompetisi ISL.

Rabu, 29 Februari 2012, tampaknya tidak akan pernah dilupakan oleh seluruh pecinta sepak bola Indonesia. Indonesia kalah 10-0 dari Bahrain di pertandingan terakhir kualifikasi Piala Dunia 2014. Inilah kekalahan terburuk Indonesia. Dan Indonesia jadi tim dengan penampilan terburuk di Zona Asia. Sampai ada komentator yang berkata, “kita saja sudah lupa kapan terakhir kita kalah dengan skor seperti ini” atau “pemain-pemain ini belum pantas mengenakan logo Garuda di dada mereka”. Dengan materi tim yang terkesan dipaksakan, Indonesia menjadi bulan-bulan Bahrain. Padahal, di Piala Asia 2007, Indonesia bisa menang 2-1 dari Bahrain dan hanya kalah 0-1 dari Saudi Arabia dan Korea Selatan yang merupakan salah satu tim terkuat di Asia.

Wasit dituding sebagai biang kekalahan memalukan ini. Namun, ada baiknya PSSI tidak menyalahkan kinerja wasit. Seandainya Howard Webb atau Pierluigi Collina pun yang menjadi wasit dan dengan materi tim seadanya, rasanya Bahrain juga tidak sulit mencetak 10 gol ke gawang Indonesia. Sudah seharusnya PSSI lebih bijak dalam menyikapi persoalan ini bukan dengan mencari kambing hitam serta terus berdalih dari hasil buruk yang diperoleh.

PSSI harus belajar dari kesalahan mereka. Lakukan konsolidasi dengan semua pihak dan meredamkan ego pribadi atau siapa saja  yang berada di kepengurusan ini jauh lebih penting daripada terus memaksakan kehendak sendiri. Hasil pertandingan tadi malam bagi saya, PSSI seperti “memperkosa” dan melecehkan negerinya sendiri di hadapan dunia internasional. PSSI harus mengoreksi diri mereka sendiri. Jika perlu, mundur saja semua pengurus PSSI saat ini karena tidak mampu mengangkat prestasi tim nasional. itu lebih ksatria daripada terus berdalih dan memaksakan diri bertahan. Ingat, hari ini peringkat Indonesia terus merosot dan  berada di posisi ke-146 rangking dunia FIFA.

Tergelitik setelah membaca salah satu forum diskusi di dunia maya, ada anggota forum yang berkomentar tentang kekalahan Indonesia dengan mengutip sebuah lagu parodi yang dinyanyikan Project Pop saat Piala Dunia 1998, “Kita indonesia nggak ikut ke sana, jadi peserta piala dunia. Lebih menderita karena hura-hara, Liga Indonesia tidak berdaya… Setelah puluhan tahun lagu ini masih menjadi kenyataan”. Tulis anggota forum tersebut. Semoga mereka yang berada di PSSI adalah orang-orang baik yang masih memiliki rasa malu dan siap bertanggung jawab atas kinerja mereka. Jika mereka memang mencintai sepak bola Indonesia, mereka adalah ksatria yang gagah jika mengundurkan diri saat kongres tahunan PSSI yang akan diadakan dalam waktu dekat ini.

2 pemikiran pada “Kekalahan Indonesia dan Introspeksi PSSI

  1. well, first of all, new elected indonesian football federation official did a f*ckin good job by 1. firing alfred riedl, the coach that bring spark to the national team and brought the team to 2nd place in ASEAN cup, replaced it with wim (which got fired after few matches).. 2. establishing new league with new teams and banned the old league where all the good player play…..those player from old league cannot play for national team just because their league is not approved league.. (comment from goal.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s