Keteladanan

1. Rasullah SAW dan Pengemis Yahudi yang Buta

Di suatu pojok kota Madinah, ada seorang pengemis Yahudi buta yang selalu menjelek-jelekan Nabi Muhammad SAW. Dia selalu berkata kepada setiap orang yang lewat (termasuk kepada Rasullah) kalau Muhammad adalah penipu, tukang sihir, dan berbagai ucapan buruk tentang Rasullah. Tapi, karena buta, dia tidak bisa melihat kalau orang yang sering memberi makan kepadanya setiap hari adalah Rasullah SAW dan Rasullah pun tidak pernah sekalipun memberitahukan pengemis itu jika dia yang setiap hari memberi makan.

Hingga suatu ketika Rasullah SAW wafat dan kegiatan memberi makan pengemis Yahudi buta itupun digantikan oleh Abu Bakar Assiddiq r.a. Namun, karena kepekaannya, pengemis itu tahu kalau Abu Bakar bukanlah orang yang biasa memberi makan setiap harinya. “Siapa dirimu? Kau bukan orang yang biasa memberiku makan karena roti ini tidak sehalus biasanya sehingga aku susah untuk memakannya”. Tanya si pengemis. Abu Bakar menjawab, “orang itu sudah meninggal dunia”. Lalu si pengemis ingin tahu lebih jauh siapa orang yang biasanya memberi makan kepadanya hingga Abu Bakar menjawab kalau orang itu adalah Rasullah SAW sehingga pengemis itu menangis tersedu-sedu dan mengakui semua kesalahannya kepada Rasullah. Pada akhirnya, pengemis tersebut mengucapkan dua kalimat syahadat. Subhanallah.

2. Imam Hasan Al Basri dan Tetangganya

Pada masa tabiin (orang yang hidup setelah zaman Sahabat Rasullah), hiduplah seorang imam di Irak yang bernama Imam Hasan Al Basri. Si Imam bertetangga dengan seorang nasrani dimana rumah Imam Hasan Al Basri berada di bawah lantai dua rumah Si Nasrani. Di salah satu pojok rumah si nasrani tersebut, digunakan untuk membuang air kecil (seperti toilet) dan berada tepat di atas kamar Imam Hasan Al Basri. Dan tanpa diketahui oleh si pemilik rumah, setiap air kecil yang terbuang merembes ke kamar Imam Hasan Al Basri.

Sang Imam tidak marah karena takut akan menyinggung tetangganya tersebut hingga mungkin terjadi perselisihan. Sang Imam meminta istrinya untuk mengambil ember dan menampung setiap rembesan yang jatuh ke kamarnya. “Penderitaan” ini pun berlangsung kurang lebih selama 20 tahun!

Hingga suatu ketika sang Imam jatuh sakit dan si tetangga ini pun menjenguknya. Betapa terkejutnya si tetangga ketika mengetahui ember yang berisi rembesan dari buang air kecil yang dilakukannya ditampung oleh Imam Hasan Al Basri, setelah Imam Hasan Al Basri menjawab dengan terpaksa pertanyaan tetangga. Setelah didesak sejak kapan Imam menampung rembesan yang jatuh ke kamarnya, Imam menjawab sudah sejak 20 tahun yang lalu. Lalu ditanya kenapa Imam selama ini hanya diam, Imam menjawab kalau dia tidak ingin membuat tetangganya tersinggung jika dia memberitahu tetangganya dan Imam menjelaskan hadits Rasullah SAW yang berisi “dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangganya“. Lalu, si nasrani dan keluarga seketika mengucapkan dua kalimat syahadat. Subhanallah.

Inilah Islam, agama yang dibangun melalui keteladanan. Dimana tingkah laku dan aksi nyata lebih berarti daripada sekedar kata-kata. Semoga kita mampu mengambil ibroh (hikmah) dari dua cerita di atas. Wallahualam bishawab.

2 pemikiran pada “Keteladanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s