Belajar Dari Liga Jerman

Sore ini aku akan berbagi soal perilaku ekonomi yang dianalogikan dalam dunia sepak bola. Jujur, ide tulisan ini bukan berasal dari diriku melainkan dari blog abiaqsa.blogspot.com yang sering aku kunjungi, Aku merasa tertarik untuk mengupas kembali salah satu tulisan di blog tersebut karena bagiku tulisan itu sangat menarik.

Tulisan kali bercerita tentang perbedaan liga-liga terbesar di Eropa di antaranya Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, dan Liga Jerman. Ingin sekali rasanya ikut menyertakan Liga Indonesia dalam tulisan ini, Tapi tidak baik rasanya jika terlalu memaksakan kehendak memasukkan Liga Indonesia.hehe… Baiklah, kita lihat perbandingan keempat liga sepak bola di atas dan kita kaitkan dalam perilaku ekonomi dalam kehidupan sehari-hari.

a. Liga Inggris

Siapa yang tidak pernah menyaksikan Liga Inggris? Liga Inggris merupakan salah satu liga terbaik dunia. Liga Champions musim 2007-2008 menempatkan Chelsea, Liverpool, dan Manchester United di partai semifinal dan mempertemukan Chelsea vs Manchester United di partai final. Liga Inggris adalah liga termahal di dunia dengan rekor transfer dan gaji pemain terbesar di dunia. Untuk transfer pemain, belum ada yang mampu mematahkan rekor 1,1 triliun rupiah pembelian Cristian Ronaldo dari Manchester United ke Real Madrid. Sedangkan untuk urusan gaji, Wayne Rooney punya gaji tertinggi di Liga Inggris dengan 102 Miliar rupiah pertahun. Belum lagi Liga Inggris punya hak siar termahal di dunia. Dan jangan lupakan Manchester City, tim paling mewah yang dimiliki Inggris saat ini. Wajar, jika liga Inggris menjadi liga termahal di dunia. Namun ironis, kemewahan liga Inggirs tidak semewah prestasi tim nasionalnya.

b. Liga Italia

Liga Italia saat ini mencoba meniru kemewahan Liga Inggris. Bertabur pemain asing dan jumlah transfer yang tinggi. tapi di sisi lain, jumlah penonton yang datang ke stadion jumlahnya cukup sedikit sehingga banyak tim yang merugi dan berhutang ke bank untuk menutupi kerugian.

c. Liga Spanyol

Liga Spanyol juga tidak jauh berbeda dari Liga Inggris dan Liga Italia. Di awal musim 2010-2011 saja, Liga Spanyol mundur dari jadwal yang ditetapkan karena beberapa tim mengalami kesulitan keuangan. Tapi sebenarnya gemerlapnya uang hanya terkonsentrasi pada Real Madrid dan Barcelona yang salah satu di antara mereka disebut sebagai tim paling berfoya-foya dalam beberapa tahun terakhir.

d. Liga Jerman

Liga Jerman memiliki kebijakan yang sedikit berbeda. Liga Jerman memiliki aturan pembatasan transfer dan gaji pemain dan pengeluaran uang untuk dua keperluan tersebut dibatasi sesuai dengan kemampuan klub. Manajemen liga dilakukan betul-betul bersandar pada kemampuan liga, baik pemasukan dari penonton, marchendise atau keterlibatan penonton (fans club) dalam memiliki saham sebuah klup sepak bola. DFB (PSSI-nya Jerman) sangat ketat dalam menjaga aturan tersebut agar tidak ada tim yang mengalami masalah keuangan. Sehingga peta persaingan tim terbilang merata. Bayern Munich, Schalke 04 atau Borussia Dortmund secara bergantian mendominasi liga. Dan tim nasional Jerman pun terbilang konsisten di setiap turnamen yang diikuti.

Dari sedikit penjelasan di atas, Liga Jerman dapat dikatakan sebagai Liga dengan perilaku ekonomi yang sangat baik. Mereka tidak boros dalam mengeluarkan uang, mereka mengukur kemampuan diri sebelum melakukan sesuatu yang berkaitan dengan keuangan. Inilah yang patut dicontoh. Untuk cakupan yang kecil, mereka mampu mengatur diri dengan baik jadi wajar dalam cakupan yang lebig luas yaitu negara, Jerman mampu membuktikan diri sebagai negara dengan stabilitas ekonomi paling baik di Eropa (rating AAA+) di saat krisis ekonomi yang melanda Eropa saat ini. Luar Biasa! Sudah sepantasnya kita belajar dari Jerman. Aku sendiri adalah penggemar Liga Inggris dan mengakui hebatnya Liga Jerman.

Terakhir, ada yang bisa menganalogikan perilaku berekonomi dengan kondisi Liga Indonesia? Just Share.hehehe

3 pemikiran pada “Belajar Dari Liga Jerman

  1. liga italia adalah liga pertama yg disiarkan di televisi indonesia. siapa tak kenal 7 kekuatan seri-a? juventus, milan, inter, roma, lazio, fiorentina, parma. tahun 2003 tiga semifinalis adalah klub seri-a. zidane memecahkan rekor penjualan ketika pindah dr juventus ke real madrid. timnas italia juara dunia 2006.

    tapi memang sepakbola italia kental sekali dgn aroma politik. calciopoli adalah tragedi terakhir yg menghancurkan seri-a.
    semoga seri-a cepat pulih kembali🙂

    #forzaJUVE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s