Aku Belajar Darimu, Sahabat..

Di bawah rindangnya pohon pinus kita pertama kali bertemu. Dan Dari sinilah semuanya berawal. Dari suatu waktu ketika kita mulai mengenal dunia pendidikan. Tak bisa dipungkiri kau adalah orang pertama yang aku kenal di tempat itu.

Waktu berjalan dan terus berjalan. Ku akui, kau anak yang pintar, jenius malah. Hanya sekali aku bisa mengalahkanmu selama enam tahun kita di sekolah dasar. Itupun jika kau tak mengalami musibah, aku yakin, aku masih belum sanggup mengalahkanmu. Meskipun kita selalu bersama, saling memotivasi tapi tak jarang, pertikaian kecil datang menghampiri. Suatu hal yang biasa dalam pergaulan.

Hingga pada suatu waktu roda kehidupan membawa kita berjalan ke jalur masing-masing. Aku, hanya bergerak sejengkal dari tanah kelahiran sedangkan kau berada ribuan kilo meter di pulau seberang. Tapi, cita-cita kita sama. Menjadi orang yang lebih baik dan sukses di bidangnya seperti apa yang impikan ketika kecil dulu. Ya, mencoba melanjutkan salah satu babak dalam kehidupan kita. Mempersiapkan diri untuk masa depan dan cita-cita yang diimpikan.

Terkadang memang, jalan yang dilalui tidak selamanya mulus. Ada kalanya kita bertemu dengan jalan yang berlubang. Ada cobaan dalam setiap perjalanan hidup. Dan disini, aku ingin sekali belajar menghadapi kerasnya hidup. Keras dan “kejam” pada diri sendiri demi bertahan hidup dan melanjutkan perjalanan menuju impian. Sesuatu yang jujur saja mungkin tidak ada dalam diriku. Disinilah sahabat, aku menaruh hormat kepadamu. Salut akan perjuanganmu.

Aku tahu, tidak gampang kehilangan orang kita cintai ketika kita baru melangkah, terlebih orang itu adalah tumpuan kita. Aku mengerti, betapa irinya hatimu ketika teman-temanmu bisa beberapa kali hilir mudik ke kampung halaman sedangkan kau hanya berdiam di tanah rantau dan hanya satu kali dalam setahun dengan waktu yang terbatas untuk berkumpul dengan keluarga. Aku sangat memamahi bagaimana perasaanmu ketika berhasil menyelesaikan pendidikan tertinggimu tanpa didampingi keluargamu dan untuk yang satu ini aku hanya bisa menangis haru dan bangga akan pencapaian dan keteguhan hatimu.

Ah, kau sangat hebat saudaraku. Beda dengan diriku yang sangat manja menghadapi hidup. Kau bisa sanggup bertahan dalam kesulitan dan bisa bangkit ketika terjatuh dan melupakan semua rasa sakit serta kenyamanan yang dimiliki. Aku ingin belajar padamu, belajar menghadapi kerasnya hidup dengan meninggalkan sikap manjamu. Walau kadang kau mengeluh, aku pikir itu adalah hal yang wajar ketika kau jenuh.

Mulai saat ini kau bukan hanya sahabat ataupun saudara bagiku. Tapi juga guruku dalam menghadapi hidup. Izinkan aku belajar darimu, Saudaraku🙂

Dedicated to my self. Keep fighting and survive for the bright future🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s