Media Pencitraan Bernama Jejaring Sosial

Demam jejaring sosial telah mewabah di Indonesia sejak awal tahun 2005 dimana ketika itu, Friendster mulai akrab dengan masyarakat Indonesia, terutama di kalangan remaja. Dominasi Friendster di Indonesia akhirnya digantikan dengan kehadiran Facebook dan Twitter yang saat ini merajai  jejaring sosial di Indonesia. Seiring dengan terus berkembangnya teknologi dan kemudahan mengakses internet, situs jejaring sosial di Indonesia seakan menjadi kebutuhan hidup. Sampai ada anekdot yang mengatakan begitu bangun dari tidur, seseorang tidak akan segera melaksanakan sholat subuh tapi memeriksa status facebook atau twitter terlebih dahulu. Atau anekdot lain yang mengatakan pola hidup saat ini adalah 4 Sehat, 5 Sempurna, 6 Facebook.

Harus diakui, hadirnya jejaring sosial memberi manfaat untuk semua. Kita bisa bertemu kembali dengan teman-teman yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Kita bisa menebar manfaat dari pengetahuan yang kita miliki di jejaring sosial dan masih banyak lagi. Sisi negatif pun tetap ada, tidak jarang jejaring sosial membuat kita lupa akan orang di sekitar kita, muncul istilah mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Kadang, kita telalu memamerkan masalah dan kesedihan kita di jejaring sosial.

Jejaring sosial sangat efektif sebagai sarana untuk melakukan pencitraan diri. Dengan kata lain, jejaring sosial sangat membantu siapa saja melakukan kebohongan-kebohongan. Kenapa? karena lewat jejaring sosial, seseorang bisa mengekspresikan diri dan mengatakan sesuatu yang tidak sebagaimana mestinya. Seseorang akan terlihat sebagai orang jujur, alim, berwibawa karena status, kata-kata atau testimoni yang mereka buat di jejaring sosial. Padahal, aslinya tidak seperti itu adanya.

Memang, bukan domain saya untuk memvonis seseorang adalah orang yang baik atau bukan. Saya hanya berusaha mengingatkan, terutama pada diri sendiri untuk tidak perlu memakai topeng agar kita terlihat sebagai pribadi yang sempurna dan baik. Tampil apa adanya lebih menjanjikan. Dan seharusnya kita pandai dalam menghindari kepalsuan dalam diri kita. Akan sangat tidak enak nantinya jika orang lain kenal siapa diri kita sebenarnya. Dan maaf, kepalsuan yang kita tampilkan akan mengarahkan kita ke sifat munafik. Na’uzubillah minzalik.

Teringat akan sebuah iklan, Yang Lain Bersandiwara, Tapi Gue Tampil Apa Adanya. Ya, akan lebih baik jika kita tampil apanya. Lebih baik orang mengenal kita sebagai durian yang kulitnya tajam tapi berbuah lembut dan manis daripada orang mengenal kita sebagai buah kedondong yang berkulit mulus tapi dalamnya berduri. So, be smart user, please…  Wallahualam Bishawab

6 pemikiran pada “Media Pencitraan Bernama Jejaring Sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s