Pernahkah Kita Renungkan?

Pernah kita renungkan apa yang telah kita perbuat dengan harta kita yang sebenarnya hanya titipan sementara dari Allah SWT? Pernahkah kita mempertanyakan mengapa kita selalu bermewah-mewah, berlebihan dalam membelanjakan harta sedangkan di luar sana masih banyak orang yang tidak seberuntung kita?

Kita tahu, bermewah-mewahan merupakan sesuatu yang tidak baik. Kemegahan harta adalah salah satu bentuk fitnah dunia yang telah meruntuhkan banyak peradaban. Berapa banyak yang menderita di dunia karena tidak pernah puas dengan harta yang mereka raih dalam hidupnya. Tidakkah itu cukup memberikan pelajaran untuk kita?

Pernahkah kita lamunkan untuk apa sebenarnya kita memiliki dua telepon genggam dengan dua nomor yang berbeda? Sedangakan keduanya memiliki fungsi yang sama, baik yang satu menggunakan operator GSM dan yang satu menggunakan operator CDMA maupun keduanya menggunakan dua operator GSM. Bukankah itu salah satu bentuk pemborosan kita? Atau, pernahkah kita berpikir untuk apa kita selalu gonta-ganti telepon genggam hanya untuk mengikuti perkembangan zaman dan tidak ingin dibilang ketinggalan zaman dengan dalih kita memang membutuhkan fitur dan segala fasilitas telepon genggam terbaru. Padahal, tidak semua fitur dan semua fasilitasnya kita gunakan, jika ingin menjawab dengan jujur, kita hanya menggunakan fitur-fitur untuk mengakses situs jejaring sosial. Update status, bahasa yang sering digunakan sekarang.

Pernahkah kita renungkan bagaimana kehidupan manusia mulai terdahulu? Seorang sahabat Rasullah SAW, Umar Bin Khatab misalnya. Umar Bin Khatab dalam hidupnya hanya tidur siang beralaskan tikar dan batu bata di bawah pohon kurma, dan ia hampir tidak pernah makan kenyang. Apakah Umar adalah seorang yang kurang mampu? Tidak adalah jawabannya. Ketika wafat, Umar bin Khattab meninggalkan ladang pertanian sebanyak 70.000 ladang, yang rata-rata harga ladangnya sebesar 160 juta rupiah—perkiraan konversi ke dalam rupiah. Itu berarti, Umar meninggalkan warisan sebanyak 11,2 Triliun rupiah. Setiap tahun, rata-rata ladang pertanian saat itu menghasilkan 40 juta rupiah, berarti Umar mendapatkan penghasilan 2, 8 triliun rupiah setiap tahun atau 233 miliar rupiah perbulan. Umar ra memiliki 70.000 properti. Umar ra selalu menganjurkan kepada para pejabatnya untuk tidak menghabiskan gajinya untuk dikonsumsi. Melainkan disisakan untuk membeli properti. Agar uang mereka tidak habis hanya untuk dimakan.

Tidak cukupkah kita berkaca dari seorang Umar Bin Khatab? Mari kita langsung berkaca dari Rasullah, Muhammad SAW.  Beliau rela hidup dalam kesederhanaan pertahankan kehormatan lewati malam-malam yang kelam dalam keadaan lapar. Bersama segenap keluarganya tak dapatkan satu makanan. Bahkan tidak pernah menikmatinya dari atas meja makan. Tidur beralaskan tikar kasar terbuat dari kulit dan rerumputan hingga membekas pada punggungnya, tak pernah kenyang dalam hidupnya. Bahkan pernah tiga purnama tiada api menyala di rumahnya. Padahal, beliau adalah salah satu pedagang yang sukses, menikahi seorang Khadijah dengan mahar 100 ekor unta dan pemimpin negara Madinah yang sangat maju di jazirah Arab ketika itu.

Mari kita renungkan (terutama bagi saya sendiri yang membuat tulisan ini) akan indahnya sebuah kesederhanaan dan menjauhi hidup yang bermewah-mewahan. Kita (sekali lagi terutama saya) harus terus berusaha menundukkan hati agar tidak terlena dengan semua kemewahan dan kegemerlapan duniawi. Ingatlah, ketika kita berada di akhir hidup kita dan beristirahat untuk selamanya, kita hanya akan membawa beberapa lembar kain putih. Semua kemewahan dunia akan kita tinggalkan. Harta dan semua kemewahannya tidak akan menolong kita ketika kita menghadap Sang Pencipta. Hanya amal shalih yang kita lakukan bersama harta tersebut yang akan membantu kita. Wallahualam Bishawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s