Ekonomi Islam Sebagai Sarana Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz Dzaariyat: 56)

Seorang akademisi, akan memandang ekonomi Islam dari sudut pandang bagaimana ekonomi Islam bisa memenuhi cakupan teori dalam ilmu ekonomi.

Seorang praktisi, akan memandang ekonomi Islam dari sudut pandang bagaimana ekonomi Islam bisa diterapkan dalam kesehariannya.

Seorang pedagang atau pengusaha, akan memandang ekonomi Islam dari sudut pandang bagaimana ekonomi Islam bisa membantu melancarkan usahanya dan mendatangkan keberkahan.

Tapi, seorang muslim yang baik akan memandang ekonomi Islam dari sudut pandang bagaimana ekonomi Islam menjadi sarana bagi dirinya agar menjadi lebih dekat dengan Rabb-nya.

Salah satu karakterisitik ajaran Islam adalah kesempurnaan dalam ajarannya atau sering disebut sebagai Syumuliatul Islam. Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana seorang pemeluknya menunaikan kewajiban kepada Sang Pencipta seperti sholat lima waktu dan puasa di Bulan Ramadhan tapi juga mengajarkan berbagai aspek lain seperti bermuamalah dan berinteraksi dengan orang lain bahkan sampai pada hukum berumah tangga.

Dalam kaitannya dengan kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Islam juga memberikan Rules of The Game dari kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh ummat Islam. Hal ini selain untuk mendorong pemeluknya mendapatkan keberkahan serta falah (kesejahteraan di dunia dan akhirat), juga untuk menciptakan suatu pemerataan serta keadilan dari kegiatan ekonomi yang dilakukan dalam keseharian.

Ekonomi Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana pelakunya menghindari dan tidak terlibat dalam transasksi yang menggunakan riba. Tapi juga mengajarkan pelakunya untuk lebih peduli terhadap orang-orang di sekitarnya melalui pemberdayaan Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF), menghindari transaksi yang mengandung unsur judi (maysir), ketidakjelasan (gharar), mengajarkan untuk tidak melakukan hal yang sia-sia atau pemborosan, bahkan mendorong pelakunya untuk hidup sederhana, tidak bermewah-mewahan yang menjadi ciri khas dari kehidupan Islam dan meminimalisir kesenjangan di tengah masyarakat.

Sebagai contoh, pemborosan yang harus dihindari dalam kegiatan ekonomi adalah menghindari apa yang dilakukan oleh seorang pecandu narkoba. Jika seorang pecandu narkoba setiap minggunya menghabiskan uang Rp. 500.000,- dan dalam 1 bulan seorang pecandu tersebut menghabiskan Rp. 2.000.000 hanya untuk mengkonsumsi narkoba. Dengan kata lain, dalam 1 tahun, seorang pecandu narkoba telah menghabiskan 24 juta rupiah hanya untuk mengatasi rasa sakau akibat kecanduannya terhadap narkoba. Sedangkan jumlah pecandu narkoba di Indonesia ada 3,6 juta orang (data Agusutus 2009). Jika dikalkulasikan, rupiah yang dihabiskan oleh pecandu narkoba setiap tahunnya mencapai angka 86, 4 triliun rupiah. Sebanding dengan jumlah dana yang dibutuhkan jika Indonesia ingin membangun 18 jembatan seperti Jembatan Suramadu.

Dari aspek ekonomi, pemborosan seperti di atas adalah sebuah kerugian yang sangat besar. Dari aspek agama, tentu saja pemakaian narkoba adalah suatu hal yang sangat dilarang dan juga pemborosan merupakan salah satu sikap yang tidak baik. Al Quran pun telah memperingatkan betapa tidak baiknya sikap boros, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya (QS. 17: 26-27).

Ekonomi Islam juga mengajak pelakunya untuk hidup sederhana dan meneladani kehidupan Rasullah SAW serta Para Sahabat Rasullah. Rasullah, adalah seorang wirausahawan yang sukses, pemimpin dari negara Madinah dan ummat Islam. Tapi, dalam keseharian di rumah beliau hanya tersisa sepotong roti, beberapa buah kurma dan bahkan beliau hanya tidur di lantai beralaskan tikar. Padahal, saat beliau menikahi Siti Khadijah, Rasullah SAW memberikan mahar 100 ekor unta yang pada masa sekarang seharga dengan satu sedan Mercedes Benz baru atau sekitar 1 milyar rupiah. Bisa dikatakan, melalui kesederhaan dalam budaya dan ajaran ekonomi Islam, pelaku dari ekonomi Islam tersebut menghindari dirinya dari jebakan lembah fitnah dunia yang telah berkali-kali meruntuhkan banyak peradaban, yaitu kemegahan harta yang menghanyutkan.

Satu lagi nilai tambah dalam ekonomi Islam adalah mengajak pelakunya untuk lebih beriman kepada Allah SWT. Keyakinan bahwa Allah-lah yang berkuasa menentukan hasil dari semua upaya kerja keras kita dalam kerja-kerja ekonomi. Dengan keyakinan ini maka logika-logika ekonomi modern sebagai rasionalitas boleh jadi tidak lagi relevan. Dengan keyakinan ini, logika-logika yang berlaku adalah kombinasi logika bumi dan logika langit. Kita tahu bahwa bekerja akan membukakan pintu rizki, tetapi keyakinan pada logika itu juga diikuti oleh logika langit yang mengatakan bahwa sedekah akan membuka pintu rizki berlipat ganda.

Sudah selayaknya kita sebagai seorang muslim untuk lebih perhatian dan menerapkan ekonomi Islam dalam keseharian kita. Dan sebisa mungkin untuk meninggalkan semua kegiatan ekonomi yang hanya berbasiskan keuntungan dunia dan membuat kita lupa terhadap Rabb yang telah menciptakan kita. Wallhualam Bishawab.

Terinspirasi dari seorang ustad.

Palembang, 31 Juli 2010

Untuk Ekonomi Islam yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s