Kenangan Di Terminal Masa Depan

Sekilas, tidak ada yang istimewa di tempat itu. Hanya lalu lintas yang ramai dan sekali-kali jalanan menjadi macet tanpa ampun serta cuaca panas yang cukup menyengat menjadi sedikit ciri khasnya. Namun , sadar atau tidak di tempat inilah para calon pemimpin bangsa ditempa. Bukan hanya dari keilmuannya saja, tapi juga fisik dan mental.

Indralaya, itulah nama tempat tersebut. Terletak sekitar 32 kilometer dari pusat Kota Palembang atau kurang lebih 1 jam perjalanan darat. Sebuah kabupaten hasil pemekaran yang secara geografis berada di daerah rawa dengan udara yang cukup menyengat. Debu jalanan seolah menjadi teman akrab sehari-hari. Tapi, tempat ini punya peran penting dalam perekonomian Kota Palembang karena merupakan jalur utama dalam akses menuju Kota Palembang dan masuk dalam rangkaian jalan lintas timur Sumatera.

Di tempat inilah berdiri sebuah universitas megah, salah satu universitas terbesar di Pulau Sumatera bahkan di Indonesia, Universitas Sriwijaya. Unsri, begitulah sebutan hariannya menjadi sebuah tempat dimana ribuan remaja di bagian selatan Pulau Sumatera berjuang mempersiapkan dirinya sebaik mungkin demi masa depannya.

Sejenak, tidak ada sesuatu yang istimewa dari tempat ini selain ingatan-ingatan bagaimana pahit manisnya usaha memenuhi tuntutan jumlah SKS demi tercapainya gelar sarjana. Namun sekali lagi, akan banyak sekali hal-hal yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Terutama bagi diriku yang hampir 4 tahun bermukim di sana, melewati beberapa kondisi dan situasi dalam berbagai ekspresi.

Berbagai emosi telah dilalui selama ini. Tawa dan canda sudah tak terhitung lagi. Begitu juga rasa kesal dan amarah yang tak mau luput menghampiri diri. Di saat suka yang menggembirakan atau saat duka yang memilukan. Rasa rindu yang senantiasa datang dan tak mau kalah ketika gelisah menyelimuti. Saat tubuh berpeluh dan jenuh tak bisa terhindarkan, asa dan harapan pun disandarkan. Semuanya telah menyatu dengan emosi diri yang kadang tak bisa dihindari bahkan diusir dari dalam diri, menemani diriku melewati hari.

Kadang, semua ini tak terlalu penting untuk diingat kembali. Tetapi terlalu sulit dan sayang untuk mengabaikan apa yang telah dilalui selama ini. Melukis masa depan di atas kanvas yang bernama kuliah dengan kuas dan warna yang berbeda setiap harinya. Tanpa satu pun kuas dan warna yang bisa kita tentukan untuk hari esok.

Ya, tempat itu akan selalu ada dalam kenanganku. Sadar atau tidak, dia telah menjadi saksi bisu dari sepenggal kisah perjalanan hidupku. Walau mungkin seperti terasa baru kemarin aku menginjakkan kaki di tanahnya, namun tanpa sadar hampir semua telah dilalui di sana. Terima kasih atas segala canda dan tawa yang telah menemani hariku. Tak akan pernah terlupakan bagaimana melewati hari di sana bersama rasa rindu dan jarak yang memisahkan diri ini dengan orang-orang yang kusayangi. Dan untuk segala salah, kekeliruan, serta kekhilafan, hanya permintaan maaf yang bisa disampaikan.

Akan selalu menarik untuk dikenang bagaimana merajut hari dan mimpi di terminal keberangkatan menuju masa depan yang diharapkan.

Seperti kita semua, setiap pejuang adalah anak zaman. Tetapi mereka menguak celah dinding sejarah, tepat di saat mentari meninggi. Lalu peradaban menjadi lebih cerah.Salim A. Fillah dalam Jalan Cinta Para Pejuang-

Palembang,

Jumat, 30 Juli 2010, pukul 22. 52 WIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s