Golput

Tahun 2009 adalah tahun dimana Indonesia akan melaksanakan Pesta Demokrasi terbesar setiap 5 tahun sekali untuk memilih anggota legislatif (wakil rakyat di DPR RI dan DPRD), anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan puncaknya berakhir pada pemilihan presiden. Pesta demokrasi yang lazim disebut Pemilu ini menarik perhatian masyarakat luas baik di Indonesia maupun di Dunia selama hampir 1 tahun belakangan ini. Ya, bisa dikatakan tahun ini adalah tahun yang akan membuat sibuk seluruh lapisan masyarakat.

Para politikus sibuk memikirkan langkah dan strategi mereka agar bisa terpilih menjadi anggota dewan atau bahkan presiden, pengusaha konveksi sibuk memenuhi order dari para peserta pemilu, media sibuk meliput perkembangan persiapan pemilu setiap hari, dan semua warga sibuk membicarakan partai politik mana yang akan menjadi pemenang.

Namun, tidak semua masyarakat menaruh perhatiannya pada pemilu tahun ini. Sebagian melihat pemilu ini biasa-biasa saja dan sebagian besar lainnya bersikap apatis terhadap pemilu 9 April 2009 nanti sampai-sampai ada yng tidak tahu kapan pemilu akan dilaksanakan. Kalaupun tahu, mereka telah membulatkan tekadnya untuk tidak menggunakan hak pilihnya pada 9 April nanti atau disebut dengan Golput (Golongan Putih) sampai-sampai untuk menekan angka golput yang diprediksi hampir mencapai 50 %, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram Golput bagi masyarakat muslim.

Mereka yang golput biasanya telah kecewa dengan hasil pemilu 2004 yang lalu. Keadaan sosial ekonomi yang tidak begitu membaik, sering tertangkapnya anggota dewan oleh pihak berwajib karena KKN atau skandal lainnya, adanya anggapan anggota dewan hanya mencari kekuasaan dan harta serta banyak caleg tidak bermutu, hanya mengandalkan jaringan atau nama besar keluarga adalah alasan utama masyarakat untuk tidak menggunakan hak pilihnya. Tapi, pelu diingat, tidak semua caleg memiliki sikap atau sifat seperti yang ada dipikiran masyarakat yang mungkin akan golput nanti. Dari 44 Parpol peserta pemilu dan ribuan caleg pasti ada yang benar-benar akan berjuang dan bekerja dengan hati untuk rakyat. Masih ada caleg-caleg ”langka” yang benar-benar mewakili rakyat di Parlemen nanti. Masih ada partai politik yang bersih tidak terlibat korupsi dan perbuatan negatif. Tinggal bagaimana masyarakat bisa jeli untuk melihat dan memilih parpol dan caleg yang benar-benar tepat duduk di Parlemen dan tidak mudah terpengaruh janji-janji manis caleg yang banyak bicara tanpa bisa memberi bukti nyata.

Sangat disayangkan bila pada pemilu nanti kita hanya bisa menjadi penonton dan komentator tanpa berpartisipasi aktif dalam pemilu nanti. Seperti halnya penonton sepak bola kebanyakan, akan sangat mudah untuk mengomentari, menyalahkan, mencemooh tim kesayangannya apabila mengalami kekalahan tapi tidak bisa berbuat lebih agar tim kesayangannya meraih hasil yang baik. Begitu juga dengan pemilu, akan sangat disayangkan jika kita hanya jadi penonton dan komentator padahal masih ada caleg yang baik dan benar-benar akan bekerja serta berjuang untuk rakyat. Akan sangat disayangkan dengan keapatisan kita negeri ini tidak bisa menjadi lebih baik. Dan akan sangat menyedihkan apabila nanti negeri ini menjadi lebih baik tapi kita hanya mengambil keuntungan semata tanpa ada kontribusi sebelumnya.

Ya, mau golput atau tidak itu merupakan hak seseorang dan memang tidak bisa dipaksakan. Tapi, adakah kesadaran untuk ikut berpartisipasi membawa negeri ini menjadi lebih baik di dalam diri kita? Satu suara memang tidak akan berpengaruh namun satu suara juga akan menentukan masa depan bangsa ini. Dan sekarang pilihan ada di tangan Anda.

2 pemikiran pada “Golput

  1. Selama negara ini belum merubah berbagai sistem dan paradigmanya terhadap demokrasi, maka Pemilu hanya buang2 dana yang pada akhirnya membenani rakyat.
    Sistem pemerintahan Negara ini membingungkan, jika memakai sistem Presidentil, mestinya yang lebih dulu dilaksanakan adalah Pelpres baru kemudian anggota Legislatif. Yang tampak aneh juga adalah, para pemimpin Parpol mencalonkan diri jadi Presiden. Ini sebenarnya pola yang dipakai oleh sistem Parlementer dimana Ketua Parpol pemenang Pemilu yang otomatis akan menjadi Perdana Menteri. Yang aneh adalah, adanya kabinet koalisi dalam pemerintahan yang bercorak Presidentil. Mestinya selaku negara yang memakai sisten ini, Presiden memilih para anggota kabinetnya dari panpol pemenang Pemilu, Parpol yang sama dengan sang Presiden. Kecuali kabinet parlementer yang mengenal kabinet koalisi. Lebih unik lagi di negara ini Presiden dan Wakilnya berasal dari Parpol berbeda, Presiden jalan ke utara, wakilnya ke selatan, tak pernah sinkron, jadinya negara ini selalu sulit mengambil keputusan.

    Adapun anggota legislatif yang nota bene dipilih langsung oleh rakyat, berarti semestinya ia mendapatkan kepercayaan penuh dari rakyat selama 5 tahun untuk mewakili konstituennya. Tapi nyatanya para anggota legislatif itu bisa di impeach atau di-PAW, ini berarti para anggota legislatif itu bukan mewakili rakyat tapi Parpol.
    Kepala Negara (bukan Kepala Pemerintahan Negara, Indonesia tak punya Kepala Negara) adalah ‘can do no wrong’ , memiliki hak istimewa untuk mengambil keputusan penting menyangkut kondisi negara. Ia juga tak bisa di-impeach terkecuali oleh sebab2 terkait kriminal.

    Para politikus di negeri ini tak ubahnya seperti Pelacur, suka2 bikin dan berpindah Parpol. Padahal antara Parpol yang satu dengan yang lainnya itu kan beda2 ideologinya. Tujuan membentuk Parpol itu setahu saya yang awam ini, adalah sekumpulan orang/massa banyak yang memiliki ideologi, cita2 dan pandangan yang sama terhadap misi membangun bangsa dan negara.
    Jika banyak yang Golput dalam pelaksanaan Pemilu nanti, jangan salahkan rakyat, tapi para politikus dan elit penguasa yang selama ini tidak berpikir dan bertindak cerdas dalam menata negara ini.
    Salam dari tenggara pulau kalimantan, mampir ya di http://www.imisuryaputera.co.cc

  2. setuju dengan poin terakhir mas yang diatas. kalo dibandingkan dengan Amerika dan Australia, partai2 di sana yang bertahan dan kuat kan cuma itu2 aja, makanya negaranya lebih maju karena orang-orang di pemerintahannya berasal dari partai yang dibangun selama bertahun-tahun (dengan ideologi yang jelas, visi yang jelas, etc), dibandingin dengan Indonesia yang politisinya bikin partai cuma supaya menang pemilu. hehe… tapi yah, masih jauh jalan untuk sama dengan Australia apalagi Amerika.

    Btw, harusnya tahun ini pengalaman pertama saya untuk milih lho, sayang saya terpaksa golput karena ternyata pendaftaran untuk ikut pemilu di kedubes sudah ditutup (dan i dont even know that there was such a thing T_T)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s