Hope

Hope… Dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan sebagai harapan. Saya memang bukan ahli bahasa yang bisa secara tepat mengartikan sebuah kata dari sudut pandang etimologi bahasa. Tapi paling tidak harapan dapat saya artikan sebagai sesuatu yang ingin kita dapatkan di kemudian hari.

Kita tentu memiliki harapan-harapan tersendiri dalam hidup kita. Terlebih impian akan kehidupan yang lebih baik dari saat ini. Kita hanya bisa berusaha menggapai harapan tersebut dengan usaha semampu kita disamping kita meminta kepada-Nya untuk mengabulkan harapan kita.

Dalam suatu riwayat disebutkan jika Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Selalin berusaha dan berdoa kita wajib selalu berprasangka baik kepada-Nya agar harapan kita dapat dikabulkan. Wallualam bishawab.

Bengkulu, 29 Januari 2012

Aku Belajar Darimu, Sahabat..

Di bawah rindangnya pohon pinus kita pertama kali bertemu. Dan Dari sinilah semuanya berawal. Dari suatu waktu ketika kita mulai mengenal dunia pendidikan. Tak bisa dipungkiri kau adalah orang pertama yang aku kenal di tempat itu.

Waktu berjalan dan terus berjalan. Ku akui, kau anak yang pintar, jenius malah. Hanya sekali aku bisa mengalahkanmu selama enam tahun kita di sekolah dasar. Itupun jika kau tak mengalami musibah, aku yakin, aku masih belum sanggup mengalahkanmu. Meskipun kita selalu bersama, saling memotivasi tapi tak jarang, pertikaian kecil datang menghampiri. Suatu hal yang biasa dalam pergaulan. Lanjut membaca

Media Pencitraan Bernama Jejaring Sosial

Demam jejaring sosial telah mewabah di Indonesia sejak awal tahun 2005 dimana ketika itu, Friendster mulai akrab dengan masyarakat Indonesia, terutama di kalangan remaja. Dominasi Friendster di Indonesia akhirnya digantikan dengan kehadiran Facebook dan Twitter yang saat ini merajai  jejaring sosial di Indonesia. Seiring dengan terus berkembangnya teknologi dan kemudahan mengakses internet, situs jejaring sosial di Indonesia seakan menjadi kebutuhan hidup. Sampai ada anekdot yang mengatakan begitu bangun dari tidur, seseorang tidak akan segera melaksanakan sholat subuh tapi memeriksa status facebook atau twitter terlebih dahulu. Atau anekdot lain yang mengatakan pola hidup saat ini adalah 4 Sehat, 5 Sempurna, 6 Facebook. Lanjut membaca

Klasifikasi Fans Sepak Bola

Hmm.. post pertama di 2012 diisi dengan sedikit kekesalan. Kesal melihat beberapa tingkah laku orang-orang dalam mendukung tim sepak bola. Mereka para pendukung atau suporter atau fans, terkadang hanya menyisakan luka di hati tapi tanpa kehadiran mereka, sepak bola menjadi sepi. Simalakama.

Oke, mari kita klasifikasikan fans yang ada dalam sepak bola, berikut penjelasannya.

1. Fans Sejati

Fans sejati tidak pernah mati. Apapun hasil yang diraih oleh tim kesayangannya mereka tidak akan berpaling hati. Menang mereka berpesta, kalah pun tak mengapa. Fans sejati tidak akan mudah untuk berganti tim untuk mereka support. Dan fans sejati selalu respek terhadap lawan apapun hasil yang diraih oleh tim kesayangannya.

2. Fans Karbitan

Jenis fans yang tidak baik untuk ditiru. Alasan mereka mendukung sebuah tim sangat tidak mendasar. Tanpa tujuan yang jelas. Fans karbitan banyak muncul ketika sebuah tim sedang berada di puncak prestasi atau karena gemerlap sesaat. Ketika tim tersebut meredup, mereka akan berlari mendukung tim lain yang jauh berprestasi. Fans karbitan juga akan berlebihan dalam mencaci rival tim yang mereka dukung tanpa alasan yang jelas.

3. Fans Garis Keras

Fans garis keras sebenarnya adalah bagian dari fans sejati karena apapun yang terjadi mereka akan mendukung tim kesayangannya sampai mati. Tapi, mereka tidak akan segan “meludahi” tim rival bahkan komponen tim sendiri yang mereka support. Mereka tidak akan segan bertindak kasar kepada pemain atau komponen tim kesayangan jika ada tindakan yang dianggap “mengkhianati” tim mereka. Seperti yang pernah dialami oleh Christian Vieri ketika masih membela Inter Milan. Vieri mencoba membuka bisnis rumah makan bersama Genarro Gattuso (Ac Milan) dan restoran tersebut dirusak oleh beberapa orang dari Internisti garis keras karena Vieri dianggap telah bekerja sama dengan salah satu pihak dari musuh abadi mereka.

4. Fans Galau

Fans galau biasanya muncul dari Kota yang memilii dua tim sepak bola atau terkenal dengan istilah derby. Galau karena dilema mendukung tim mana. Seperti yang terjadi oleh ayah dari Christian Abbiati (Ac Milan).  Sang Ayah adalah seorang Internisti, tapi si anak malah bermain untuk rival sekota (Ac Milan). Konon, jika Abbiati dimainkan saat derby Milan, sang ayah lebih memilih tidur daripada menonton pertandingan derby tersebut.

Ya, sepertinya Aku baru berhasil mengklasifikasi 4 jenis fans sepak bola. Mungkin ada tambahan dari teman-teman? Silahkan…. :D